Ads

Selamatkan Dunia, Kementan Minta Penggunaan Antibiotik Secara Bijak

pak ketutNusantaraTerkini.Com, Jakarta – Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Diarmita meminta agar penggunaan antibiotik di seluruh dunia dilakukan secara bijak dan tanggung jawab. Penggunaan antibiotik yang tidak bijak dan tidak rasional, baik di sektor peternakan, perikanan, pertanian dan kesehatan masyarakat menjadi pemicu munculnya resistensi antimikroba.

“Antibiotik memang dibutuhkan untuk mengobati penyakit hewan, namun penggunaannya yang tidak bijak dan berlebihan dapat menimbulkan resistensi antimikroba,” katanya dalam Seminar Kampanye Pekan Kesadaran Antibiotik Sedunia di Bogor, Sabtu (19/20).

Ketut menjelaskan resistensi antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR) saat ini menjadi ancaman yang tidak mengenal batas-batas geografis, dan berdampak pada kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, peternakan dan pertanian. Resistensi antimikroba ditandai dengan munculnya bakteri yang kebal terhadap pengobatan antibiotik atau lebih dikenal sebagai “bakteri super” (superbug).

“Dampaknya, infeksi semakin sukar untuk disembuhkan, bahkan bisa berakibat pada kematian,” jelasnya.

Ia menyampaikan angka kematian akibat resistensi antimikroba di seluruh dunia tercatat sebanyak 700,000 jiwa per tahun. Pada tahun 2050, diperkirakan angkanya mencapai 10 juta jiwa per tahun.

“Angka ini melebihi prediksi angka kematian akibat kanker,” ujarnya.

Menurutnya, resistensi antimikroba terjadi saat mikro organisme seperti bakteri, virus, jamur dan parasit, mengalami perubahan sehingga obat-obatan (seperti antibiotik, antifungal, antiviral dan antiparasit) yang digunakan untuk menyembuhkan infeksi yang ditimbulkan mikro organisme ini menjadi tidak lagi efektif.

“Pada kasus di hewan ternak misalnya, hewan tersebut dapat mengembangkan bakteri super di dalam ususnya,” ujarnya.

Terkait hal ini, Ketut menegaskan Kementan sudah bersiaga dalam menghadapi ancaman resistensi antimikroba. Yaitu dengan mempersiapkan pembentukan Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba- Kementan.

“Kementan pun melakukan finalisasi rencana aksi nasional dan road map pengendalian resistensi antimikroba,”jelasnya.

Ketua FAO Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (ECTAD) Indonesia, James McGrane menuturkan ancaman resistensi antimikroba sangat berkaitan erat dengan perilaku kesehatan, penangangan medis, keamanan sistem produksi pangan dan lingkungan agro-ekologi. Kejadian resistensi antimikroba tidak lagi hanya dilihat sebagai masalah yang berdiri sendiri, tetapi juga terkait dengan berbagai sektor.

“Oleh karena itu, pendekatan ‘One Health’ yaitu kesehatan terpadu yang menggabungkan sektor kesehatan masyarakat, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan sangat diperlukan untuk mengatasi masalah yang kompleks ini,” tuturnya.

Sementara itu, Pengurus Besar Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI), Heru Setijanto mendorong komunitas profesi dokter hewan untuk menggunakan antibiotik pada hewan secara bijak, demi kesejahteraan manusia. Antibiotik harus digunakan sesuai dengan kebutuhan medis demi kesembuhan pasien dan kesehatan dalam jangka panjang.

“Upaya medis yg dilakukan tidak boleh hanya sekedar menyembuhkan hewan namun mengabaikan kesehatan manusia yang mengkonsumsi produk hewan dan atau mengabaikan risiko resistensi agen penyakit.

Untuk itu, lanjutnya, PB PDHI mendorong agar pemerintah dapat membuat pengaturan yang ketat mengenai penggunaan dan pengawasan penggunaan antibiotik.

Srihadi Agungpriyono, Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH IPB) menambahkan bahwa peran pendidikan dokter hewan sangat esensial dalam membekali pengetahuan dan keterampilan calon dokter hewan dan dokter hewan terkait pemakaian antibiotik yang baik dan benar.

“Dokter hewan harus berperan aktif dalam mengendalikan dan mengatasi masalah resistensi antibiotik,” pungkasnya.(NU001)



4 Comments

POST YOUR COMMENTS

nineteen + fourteen =