Ads

Media, Ideologi Dan Kerukunan Bangsa

Media, Ideologi Dan Kerukunan Bangsa

Kapenrem BengkuluOleh Mayor Inf. David Suardi

Baru-baru ini penulis diundang mewakili Danrem dalam sebuah acara televisi berjudul Ormas Islam vs Ideologi Pancasila. Sebelum menghadiri acara tersebut dilakukan koordinasi kepada Danrem terkait judul yang menurut hemat kami cukup tendensius dan berpotensi kepada kerukunan dan ketentraman masyarakat. Sebab kami berpendapat judul tersebut akan menggiring opini masyarakat bahwa Ormas Islam tidak berideologi Pancasila, dan yang berideologi Pancasila adalah selain ormas Islam.  Selain itu judul tersebut akan membuat stigma seolah-olah Ormas Islam tidak Pancasilais. Menjadi berbahaya apabila stigma tersebut berkembang menjadi seolah-olah Islam tidak pancasilais, anti kebhinekaan, anti NKRI  dsb, maka akan membuat keguncangan yang besar di masyarakat. Padahal sebagai mayoritas, umat Islam memegang peranan kunci mewujudkan kerukunan dan ketentraman dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara dalam bingkai NKRI ini.   Singkat cerita dalam kesempatan itu, saya mengusulkan agar alangkah baiknya jika judul tersebut diganti menjadi Ormas Islam dan Ideologi Pancasila sehingga diskusi tidak berkembang ke dalam hal-hal yang akan dapat meresahkan masyarakat Bengkulu yang kita cintai ini.

Mempertentangkan ideologi Islam dengan Ideologi Pancasila adalah kurang  tepat, termasuk manakala ideologi Islam tersebut dianut Ormas Islam sehingga seolah-olah otomatis menjadi anti Pancasila. Sebab tidak ada satupun dalam Islam yang tidak sesuai dengan Pancasila, dan sebaliknya tidak ada  satupun sila Pancasila yang bertentangan dalam ajaran Islam. Pancasila memberi ruang seluas-luasnya untuk setiap warga negara menjalankan perintah dan ajaran agamanya [yang sudah diakui negara]. Founding fathers kita sudah bersepakat bahwa Pancasila adalah dasar negara, Pembukaan UUD 1945 sebagai sumber hukum tertinggi yang memuat di dalamnya Pancasila sebagai dasar negara, tujuan, cita-cita negara, yang pada hakikatnya melekat dalam satu kesatuan utuh yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Yang menjadi permasalahan adalah jika Islam ataupun ideologi lainnya akan merubah Pancasila sebagai dasar negara maka otomatis akan merubah dan membubarkan NKRI. Oleh karena itulah upaya-upaya dan perbuatan merubah Pancasila sebagai dasar negara adalah perbuatan makar dan merongrong kelangsungan NKRI otomatis akan berhadapan langsung dengan TNI yang tugas pokok nya adalah menjaga keutuhan negara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Sebenarnya pertentangan ideologi adalah lagu lama dan berakhir seiring dengan usainya perang dingin. Namun tesis guru besar Universitas Harvard Samuel Huntington tentang benturan peradaban [Clash of Civilization] pada tahun 1993 meramalkan  akan adanya benturan antara peradaban Barat dengan peradaban Islam. Barat memandang Islam sebagai ancaman hegemoni mereka sebagai pemimpin peradaban. Sebaliknya peradaban Islam memandang dunia Barat sebagai hipokrit, penguras sumber daya negara-negara Muslim.  Sulit dipungkiri bahwa tesis Huntington itu sebagian menjadi kenyataan setelah dua dekade lebih digaungkan. Padahal setelah ditelaah lagi apa yang disampaikan oleh Huntington tentang benturan peradaban itu sebenarnya adalah kesan luar dan bungkus-nya saja. Sebab benturan peradaban itu sejatinya adalah konflik ekonomi dan perebutan sumber daya yang realitanya banyak ditemukan di negara-negara muslim.

Fakta bahwa akan terjadi konflik ekonomi dan perebutan sumber daya sudah disampaikan oleh Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo dalam berbagai kesempatan. Ledakan penduduk dunia akan memicu perebutan dan penguasaan sumber daya pangan, energi, dan lahan. Di tengah persaingan antar bangsa, Indonesia memiliki potensi besar untuk tetap eksis bahkan unggul dalam persaingan global sebab memiliki prasyarat untuk itu. Wilayah kita baik darat, laut maupun kepulauan menyediakan ketersediaan resources pangan, energi, dan lahan. Indonesia juga akan menikmati bonus demografi dengan melimpahnya usia produktif pada 2020-2030. Ditambah dengan semakin tingginya tingkat pendidikan dan penguasaan generasi muda kita terhadap sains dan teknologi, perbaikan reformasi birokrasi dan demokrasi yang berjalan baik [asumsi berhasil], maka kejayaan Indonesia bukanlah sekedar impian untuk kita wujudkan. Namun, jangan lupa semua itu dapat kita raih jika semua elemen bangsa ini solid, bersatu dan hidup dalam kedamaian, ketentraman dan menjauhi segala pertikaian.

Kalimat terakhir dari penyampaian Panglima TNI  di atas semakin menegaskan kepada kita bahwa ketentraman, kedamaian, soliditas dan kesatuan antar semua elemen masyarakat adalah syarat pokok negara kita akan bergerak maju. Ketentraman, kedamaian soliditas persatuan dan kesatuan akan dapat dirajut manakala ketidakadilan, kesenjangan  dan ketimpangan tidak semakin lebar dan marak terjadi. Kebangkitan gerakan rakyat yang menumbangkan penguasa di negara-negara Arab [Arab Spring] sejatinya terjadi akibat ketidakadilan, KKN, ketimpangan dan kesewenang-wenangan rezim yang berkuasa. Kejatuhan Presiden Tunisia Zainal Abidin bin Ali yang memerintah selama 23 tahun dipicu oleh penjual buah yang bunuh diri dengan membakar dirinya akibat tidak tahan diperlakukan semena-mena oleh aparat [beritasatu.com, 25 Desember 2011]. Aksi sang penjual buah memicu unjuk rasa besar-besaran di seluruh negeri dan menumbangkan sang diktator tak kurang dari satu bulan. Aksi unjuk rasa di Tunisia merembet ke Mesir dan menumbangkan Husni Mubarak yang berkuasa lebih dari 30 tahun. Unjuk rasa menuntut Mubarak mundur diikuti pula oleh umat Kristen di Mesir yang membuktikan bahwa kejatuhan Mubarak bukan sentimen SARA tapi karena ketidakadilan dan kesenjangan. Kejatuhan berdarah menyelimuti Libya dengan tumbangnya Khadafi yang sudah 40 tahun berkuasa. Bak kartu domino, konflik dan gejolak  sampai ke Yaman dan Suriah yang juga ikut menyusul. Apa yang terjadi di Suriah jauh lebih rumit karena diperparah sektarianisme dan campur tangan asing [Iran dan Rusia] yang ikut membela rezim Bashar al Assad dari kejatuhan.

Penulis hendak menyampaikan bahwa bukanlah soal ideologi yang membuat suatu bangsa berjaya atau tidak. Kejadian Arab Spring bukan dipicu oleh bangkitnya gerakan Islam yang memicu turunnya penguasa sehingga mengakibatkan kekacauan dan ketidakstabilan. Arab Spring terjadi karena ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang merajalela oleh penguasa. Framing media [Barat] lah yang mengkondisikan kebangkitan [gerakan] Islam seolah-olah sumber ketidakstabilan negara. Meski negara Arab, kenyataannya ideologi negara di atas adalah sekuler. Akan percuma misalnya suatu negara mengadopsi hukum Islam sebagai sumber hukum, namun dalam pelaksanaannya penuh ketidakadilan, kecurangan, hanya berlaku bagi rakyat kecil tak berlaku bagi penguasa. Kalau seperti itu apakah kita yang mayoritas Islam sepakat bahwa Islam gagal membawa keadilan dan kesejahteraan? Tentu tidak. Bahwa kejayaan suatu bangsa terjadi manakala keadilan ditegakkan sehingga tercipta kedamaian, penguasaan sains dan teknologi, dan ketersediaan resources untuk membangun. Seperti kata Panglima TNI di atas, bangsa kita punya semuanya. Tetapi kita [barangkali] belum sadar dan masih sering bertikai.

Pengalaman penulis dalam berbagai penugasan telah menyadarkan bahwa begitu berharganya arti dari sebuah kerukunan dan kedamaian. Menyaksikan warga tidak leluasa beraktfitas, keluar rumah saja masih was-was, anak-anak tidak dapat bersekolah, lumpuhnya pelayanan publik, apalagi untuk berkarya dan membangun adalah sangat menyesakkan. Maka menyaksikan ketentraman, kedamaian dan kerukunan yang ada di kota Bengkulu [Provinsi Bengkulu pada umumnya setelah 20 tahun berdinas di luar] adalah kebanggaan dan rasa syukur yang luar biasa. Untuk itu penulis selalu berharap agar kita semua  dari seluruh elemen warga Bengkulu terutama insan pers ikut berperan serta dalam menjaga ketentraman dan kerukunan ini. Tidak perlu latah menularkan kejadian-kejadian buruk dari luar daerah kita seolah-olah akan terjadi di sini. Kata orang, energi negatif itu berpengaruh buruk dan dapat menular, maka tak usahlah kita  tularkan ke diri kita. Satu lagi yang penting adalah sudah saatnya kita selalu bersikap mencari kebenaran dan motif dari berita yang kita dapatkan. Sebab boleh jadi akibat pemberitaan yang tidak berdasar tadi akan membawa implikasi yang tidak kita inginkan semua. Marilah kita bersikap cerdas dan selalu bersatu untuk menciptakan ketentraman dan kedamaian negeri ini, khususnya Provinsi Bengkulu yang kita cintai ini. (Penulis adalah Kepala Penerangan KOREM 041 Garuda Emas Bengkulu)  /Tulisan pernah dimuat di RB Koran Terbit 23 Mei 2017



POST YOUR COMMENTS

eighteen − twelve =