Ads

Gubernur: Tape Recorder Dan Amplifier Harus Harmoni

maknyussNusantaraTerkini.Com,  Gubernur Bengkulu Ridwan mengibaratkan Media Massa dan Pemerintah Daerah layaknya Tape Recorder dan Amplifier yang harus sejalan dan bersinergi dalam menghasilkan suara bahkan musik yang harmoni. Walaupun Tape Recorder telah merekam hal yang berguna, menarik bahkan enak didengar, namun jika Amplifier tidak bisa dimainkan secara baik maka rekaman yang ada jelas tidak bisa diperdengarkan secara baik pula.

“Kalau media ini amplifiernya, kalau pemerintah itu ya tape recordernya. Jadi walaupun tape recorder sudah menghasilkan rekaman dengan suara yang bagus, tapi kalau amplifiernya tidak mau membesarkan suaranya juga tidak terdengar. Artinya yang bisa membesarkan dan mengecilkan suara pemerintah itu di Bengkulu ini ya media,” tegas Gubernur Bengkulu yang dikenal dengan sapaan RM, dalam salah satu isi sambutannya sebelum membuka secara resmi acara Focus Group Discussion (FGD) Sinergi Positif Pemerintah dan Pers Membangun Bengkulu dan Launching Media Center Pemprov Bengkulu pada senin pagi (26/09) di salah satu hotel kawasan Pantai Panjang.

Ditambahkan Gubernur, salah satu persoalan yang dihadapi Bengkulu saat ini yang prioritasnya adalah masalah kemiskinan yang belum mampu diselesaikan dalam kurun waktu belasan tahun. Oleh karena itu, jika antara Tape Recorder dan Amplifier tersebut dimainkan dengan harmoni dan indah, RM memastikan kemiskinan di Bengkulu bisa diselesaikan dengan baik.

“Bagaimana melakukan hal seperti itu, inilah kekuatan media yang harus dioptimalkan. Jangan seperti terjadi selama ini, media di Bengkulu sering memberitakan informasi yang menjelekkan pemda dan ujungnya menimbulkan opini negatif serta konflik di tengah masyarakat, “ pungkas Gubernur.

Dalam FGD bertemakan Sinergi Positif Pemerintah dan Pers Membangun Bengkulu, dihadirkan 2 narasumber yang berkompeten yakni Imam Wahyudi yang merupakan Anggota Dewan Pers 2013-2016 dan Sekjen Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Hendry CH Bangun. Sedangkan peserta FGD terdiri dari anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Bengkulu, para Kepala SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) Provinsi Bengkulu, perwakilan Humas 10 kabupaten/ kota, para pimpinan media lokal Bengkulu dan kontributor media nasional, serta pihak terkait lainnya.

Dalam pemaparannya anggota Dewan Pers Imam Wahyudi menjelaskan, kurang tereksposnya informasi yang mengangkat nama baik Bengkulu khususnya di tingkat lokal, jelas karena berita yang disampaikan tidak diolah media massa yang ada secara baik dan berkesinambungan. Hal ini menurut Imam juga terjadi di beberapa daerah lainnya di Indonesia.

“Jika masih banyak media massa abal – abal di Bengkulu, maka informasi yang sehat jelas akan terkesampingkan. Untuk itu, media profesional dibutuhkan untuk membangun Bengkulu bersama pemerintah dan masyarakat,” jelas Imam Wahyudi.

Hal senada juga diungkapkan sekjen PWI Pusat Hendry CH Bangun terkait profesionalitas jurnalis/ wartawan dari media lokal untuk tingkat daerah, seperti halnya di Provinsi Bengkulu.

“Profesionalitas wartawan dituntut dalam mendukung pembangunan, bukan dikotori dengan tindakan pemerasan yang dilakukan oknum yang mengatas namakan wartawan,” jelas Hendry. (rian)



1 Comment

POST YOUR COMMENTS

fourteen + 3 =